Jumat, 14 Oktober 2011

BERMORAL DAN BERBUDAYA MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER


Perkembangan kehidupan yang terjadi saat ini, pelan tapi pasti menjadikan manusia seolah terkotak-kotakkan. Perubahan ini, lambat laun mengantarkan kita pada tingginya rasa individualitas, terkikisnya nilai-nilai moral secara perlahan serta ambisi untuk menonjolkan keegoannya sebagai manusia berani. Semua ini menyebabkan kita lupa bahwa sesungguhnya manusia tak dapat hidup tanpa peran orang lain.
Kondisi ini pulalah yang saat ini menghinggapi anak didik kita. Anak didik sebagai objek
dari pelaksanaan pendidikan, telah mulai menunjukkan kondisi ini. Dengan dalih ingin dikatakan sebagai manusia yang mengikuti perkembangan zaman, etika dan sopan santunpun berani di “tabrak”. Ujung-ujungnya, anak didik mulai bertindak lebih berani. Guru yang tidak disukaipun berani didemo.
Kebiasaan mengemukakan pendapat yang biasanya diajarkan dalam salah satu mata pelajaran pun, dianggap sebagai cara yang jitu untuk mengeritik gurunya. Mengeritik apa saja yang tidak disukai ala mereka, tanpa pernah merasa bersalah atau merasa sikapnya itu tidak benar. Nonsen katanya! Ini zaman reformasi, setiap orang bebas mengemukakan pendapat. Itulah dalih untuk membenarkan sikapnya. Saya jadi teringat pada sebuah syair lagu :
Kita bisa pandai menulis dan membaca karena siapa ?
Kita bisa tahu beraneka bidang ilmu dari siapa ?
Tentu kita semua sepakat dengan satu jawaban : “dari guru”.
Melihat kondisi demikian, tentu kita sangat mendukung sekali adanya upaya untuk mengembangkan pendidikan berkarakter di sekolah-sekolah. Diharapkan dengan pendidikan karakter anak didik yang memiliki etika akan tetap ada, sehingga tercipta kembali generasi yang bermoral dan bertanggung jawab serta mampu menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya.
Doni Koesoema (2007) mengungkapkan secara singkat, bahwa pendidikan karakter diartikan sebagai sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dan menghayati  kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain. Pendidikan karakter, bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan.
Mengembangkan pendidikan karakter di sekolah, adalah lebih diutamakan pada bagaimana menanamkan nilai-nilai tertentu pada diri anak didik. Nilai-nilai yang dimaksud, adalah yang berguna bagi pengembangan pribadinya sebagai makhluk individual sekaligus sebagai makhluk sosial dalam lingkungan sekolah.
Pendidikan karakter di sekolah secara sederhana bisa didefinisikan sebagai, “pemahaman, perawatan, dan pelaksanaan keutamaan (Practice of virtue). Olehnya itu, pendidikan karakter di sekolah mengacu pada proses penanaman nilai berupa pemahaman-pemahaman, tata cara merawat dan menghidupkan nilai-nilai itu, serta bagaimana seorang siswa memiliki kesempatan untuk dapat melatihkan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menjadi figur keteladanan bagi anak didik serta mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan dan keamanan yang dapat membantu suasana pengembangan diri individu secara keseluruhan dari segi teknis, intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis dan religius.
Pendidikan karakter tidak semata-mata bersifat individual, melainkan juga memiliki dimensi sosial struktural. Meskipun pada gilirannya kriteria penentu adalah nilai-nilai kebebasan individual yang bersifat personal. Pendidikan karakter yang berkaitan dengan dimensi sosial struktural, lebih melihat bagaimana menciptakan sebuah sistem sosial yang kondusif bagi pertumbuhan individu. Dalam konteks inilah, kita bisa meletakkan pendidikan moral dalam kerangka pendidikan karakter. Pendidikan moral itu sendiri merupakan pondasi bagi sebuah pendidikan karakter.
Pendidikan karakter, lebih mengutamakan pertumbuhan moral individu. Penanaman nilai-nilai dalam diri siswa dan pembaharuan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu merupakan dua wajah pendidikan karakter dalam lembaga pendidikan. Anak didik sebagai individu jika memiliki moral yang baik tentu akan melahirkan kepribadian yang luar biasa, sikap dan perilaku yang dilakoni dalam kehidupan sehari-hari, merupakan cermin dari kepribadian dirinya. Berikutnya tentulah akan memunculkan anak didik yang bermoral dan berbudaya diatas kebebasannya sebagai individu.
Terlepas dari apa yang diuraikan di atas, semua terpulang pada guru sebagai motivator dan penggerak di lapangan. Mampukah setiap guru menyematkan pendidikan karakter pada anak didik

KI AGENG SELO


Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja - raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Dati II Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup ...dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam babad tanah Jawi ( Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki - laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian. Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang.
Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya .
Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja - raja besar yang menguasai seluruh Jawa .
Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. ( Altholif : 35 - 36 ) .
Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja - raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ). Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya : Sela. Selanjutnya cerita tentang Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad sebagai berikut :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar - benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak - enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “ bledheg “ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek - kakek. Kakek itu cepat - cepat ditangkap nya dan kena, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak. Oleh Sultan “ bledheg “ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun - alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “ bledheg “ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek - nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg “ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “ bledheg : tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “ bledheg hancur berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “ Bende “ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “ Bende “ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “ kesrimpet “ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya ( Jaka Tingkir ). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. ( M. Atmodarminto, 1955 : 1222 ) .

PERILAKU KEAGAMAAN



            Perilaku keagamaan pada umumnya merupakan cerminan dari pemahaman seseorang terhadap agamanya. Jika seseorang memahami agama secara formal atau menekankan aspek lahiriahnya saja, seperti yang nampak dalam ritus-ritus keagamaan yang ada, maka sudah barang tentu juga akan melahirkan perilaku keagamaan yang lebih mengutamakan bentuk formalitas atau lahiriahnya juga. Padahal substansi agama sesungguhnya justru melewati batas-batas formal dan lahiriahnya itu. Dalam Islam, seperti yang ditegaskan kitab suci Alquran 107 yaitu surat al-ma’un tentang siapakah sesungguhnya pendusta agama? yaitu mereka yang menjalankan salat tetapi merela lalai dari makna hakiki salatnya, mereka melupakan makna sosial salatnya, untuk memberikan keselamatan dan memperhatikan nasib pada mereka yang ada di sekitarnya, yaitu mereka yang dalam salatnya melupakan nasib anak yatim dan tidak mau memberikan makanan kepada orang-orang miskin, suka pamer dan tidak mempunyai kepedulian sosial.
            Problem kemiskinan dan konflik kekerasaan keagamaan serta komunalisme yang akhir-akhir ini merajalela dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara, antara lain disebabkan oleh kuatnya pemahaman di kalangan umat beragama yang lebih menekankan formalisme keagamaannya. Dalam pandangan keagamaan yang formal, maka antara minna yaitu kita yang sekeyakinan agamanya, dengan minhum yaitu mereka yang berbeda keyakinan agama, ada dinding pembatas yang amat tegas yang memisahkannya, bahkan seringkali bermusuhan, sehingga adanya pandangan kesatuan kemanusiaan yang universal dalam agama, hampir tidak dimungkinkannya, karena satu kelompok agama dengan kelompok agama yang lainnya, bisa saling berebut wilayah keagamaan dan umat binaan yang seringkali menimbulkan konflik kekerasaan yang berdarah-darah.
            Dalam realitas kehidupan sosial, pemahaman seseorang terhadap suatu agama sesungguhnya berlangsung secara gradual. Dalam Islam dikenal ada tiga tahapan pemahaman, yaitu 1) Tahapan iman, yaitu suatu tahapan pemahaman keagamaan yang berlandaskan pada logika teologis yang menetapkan perlunya suatu pandangan ketuhanan yang menjadi sumber bagi sikap dan pandangan hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan yang makin kompleks. Pandangan ini diperlukan sebagai landasan kebenaran dan pembenaran bagi perilakunya. Tanpa landasan kebenaran yang teologis, maka seseorang akan mengalami kebingungan dan kegoncangan dalam kehidupannya sehingga jatuh pada keyakinan anti Tuhan, atheisme. Hampir semua agama memulai pemahaman keagamaan yang dipeluknya dari logika teologis ini.
2) Tahapan Islam, yaitu tahapan pemahaman keagamaan di mana seseorang telah mengikatkan dirinya pada pandangan etika dalam syariat yang mengatur ketat terhadap perilaku keagamaan yang dianutnya. Di sini aturan etika yang menjadi standar perilaku keagamaan ditetapkan secara jelas dan detail, yang menyangkut apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Konsep halam dan haram begitu jelasnya, sehingga batas perilaku yang boleh dan tidak boleh, menjadi standar penilaian untuk menetapkan siapa yang minna dan siapa pula yang minhum. Bahkan ini berlaku baik dalam kehidupan internal dari aliran-aliran keagamaannya sendiri, maupun bagi kehidupan keagamaan yang eksternal sifatnya. Dalam tahapan pemahaman terhadap etika keagamaan itu, maka perilaku keagamaan menjadi kaku dan rigid dan akibatnya seseorang terjebak pada aturan-aturan yang kaku, yang cenderung anti realitas, anti perubahan dan menolak pluralisme.
3) Tahapan Ihsan yaitu tahapan pemahaman keagamaan yang telah mampu melewati batas-batas logika teologis dan etis, sehingga seseorang menemukan hakikat keagamaannya itu dalam kedalaman dirinya yang terbuka dengan realitas, dapat menerima dan memahami terhadap pluralitas dengan pandangan yang lebih substansial yang membuat dirinya menjadi lebih arif dan merasakan keindahan dari realitas yang beraneka-ragam, sehingga menjadi proses pengkayaan spiritual yang tidak pernah berakhir. Pada tahapan ihsan ini, maka agama telah membawa pemeluknya untuk menemukan dirinya kembali dalam kebebasan yang substansial berhadapan dengan Tuhan yang memuliakan dirinya melalui perilakunya dalam memuliakan makhluk Tuhan lainnya. Logika teologis dan etis itu bersemayam dalam kedalaman dirinya sendiri yang eksistensial dan aktual, bukan sesuatu yang ada di luar dirinya.
Logika teologis dan etika keagamaan yang formal telah menemukan puncaknya pada pembebasan dirinya dalam pengalaman estetika keagamaan yang substansial. Keanekaragaman dan kemanusiaan universal telah mengantarkan seseorang menjadi lebih arif dalam memandang kebenaran, kemanusiaan dan keanekaragaman, bukan sebagai sesuatu yang terpisah-pisah dan terpecah-pecah, tetapi merupakan kesatuan yang estetik. Pendidikan agama seharusnya tidak boleh berhenti pada suatu tahapan tertentu saja, tetapi dikembangkan sehingga dapat mengantarkan seseorang untuk dapat menemukan dirinya dalam puncak pengkayaan spiritualitas yang kreatif untuk berhadapan dengan Tuhan yang Maha Kreatif, sehingga terjadi dialektika kreatif dalam menciptakan karya kemanusiaan dan penguasaan sain dan teknologi yang tinggi untuk memajukan suatu peradaban suatu bangsa.

12 PILAR UTAMA PENDIDIKAN KARAKTER


Oleh: MOHAMMAD WAFIQ AMALI

1. Penghargaan terhadap tubuh
Penghargaan terhadap tubuh merupakan keutamaan fundamental yang perlu dikembangkan dalam diri setiap orang. Penghargaan terhadap tubuh termasuk di dalamnya kesediaan dan kemampuan individu menjaga dan merawat kesehatan jasmani tiap individu. Kesehatan jasmani merupakan salah satu bagian penting bagi pembentukan keutamaan. Pendidikan karakter mesti memprioritaskan tentang bagaimana individu dapat menjaga tubuhnya satu sama lain, tidak merusaknya, melainkan membuat keberadaan tubuh tumbuh sehat sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan kodratnya. Penghargaan terhadap tubuh merupakan ekspresi diri individu untuk menjadi perawat dan pelindung satu sama lain. Individu mesti menumbuhkan dalam dirinya sendiri keinginan untuk merawat tubuh diri dan orang lain, termasuk pertumbuhan psikologis dan emosionalnya.
2. Transendental
Pengembangan keutamaan transendental, baik itu yang sifatnya religius, keagamaan, maupun yang sublim, seperti kepekaan seni, apresiasi karya-karya manusia yang membangkitkan refleksi serta kemampuan untuk memahami kebesaran yang Illahi merupakan dasar bagi pengembangan pembentukan karakter. Setiap individu dianugerahi kepekaan akan sesuatu yang lembut, halus, yang bekerja secara rohani mendampingi manusia, kepekaan akan sesuatu yang adikodrati. Kepekaan akan yang Kudus, yang transenden, yang baik, yang indah, baik itu dalam diri manusia maupun di alam, merupakan salah satu sarana untuk membentuk individu menjadi pribadi berkeutamaan.
3. Keunggulan akademik
Keunggulan akademik adalah tujuan dasar sebuah lembaga pendidikan. Keunggulan akademik berbeda dengan sekedar lulus ujian. Keunggulan akademik mencakup di dalamnya, cinta akan ilmu, kemampuan berpikir kritis, teguh pada pendirian, serta mau mengubah pendirian itu setelah memiliki pertimbangan dan argumentasi yang matang, memiliki keterbukaan akan pemikiran orang lain, berani terus menerus melakukan evaluasi dan kritik diri, terampil mengomunikasikan gagasan, pemikiran, melalui bahasa yang berlaku dalam ruang lingkup dunia akademik, mengembangkan rasa kepenasaranan intelektual yang menjadi kunci serta pintu pembuka bagi hadirnya ilmu pengetahuan. Dari kecintaan akan ilmu inilah akan tumbuh inovasi, kreasi dan pembaharuan dalam bidang keilmuan.
4. Penguasaan diri
Penguasaan diri merupakan kemampuan individu untuk menguasai emosi dan perasaannya, serta mau menundukkan seluruh dorongan emosi itu pada tujuan yang benar selaras dengan panduan akal budi. Penguasaan diri termasuk di dalamnya kesediaan mengolah emosi dan perasaan, mau menempatkan kecondongan rasa perasaan sesuai dengan konteks dan tujuan yang tepat sebagaimana akal budi membimbingnya. Penguasaan diri termasuk di dalamnya kemampuan individu dalam menempatkan diri, bertindak dan berkata-kata secara bijak dalam ruang dan waktu yang tertentu.
5. Keberanian
Keberanian merupakan keutamaan yang memungkinkan individu mampu melakukan sesuatu dan merelisasikan apa yang dicita-citakannya. Keberanian termasuk di dalamnya kesediaan untuk berkorban demi nilai-nilai yang menjadi prinsip hidupnya, tahan banting, gigih, kerja keras, karena individu tersebut memiliki cita-cita luhur yang ingin dicapai dalam hidupnya. Keberanian merupakan dorongan yang memungkinkan individu mewujudnyatakan dan merealisasikan impiannya.
6. Cinta kebenaran
Cinta akan kebenaran merupakan dasar pembentukan karakter yang baik, bukan sekedar sebagai seorang pembelajar, melainkan juga sebagai manusia. Manusia merindukan kebenaran dan dengan akal budinya manusia berusaha mencari, menemukan dan melaksanakan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Prinsip berpegang teguh pada kebenaran mesti diterapkan bagi praksis individu maupun dalam kehidupan bersama. Cinta akan kebenaran yang sejati memungkinkan seseorang itu berani mengorbankan dirinya sendiri demi kebenaran yang diyakininya. Sebab, keteguhan nilai-nilai akan kebenaran inilah yang menentukan identitas manusia sebagai pribadi berkarakter.
7. Terampil
Memiliki berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang dibutuhkan, bagi bagi perkembangan individu maupun dalam kerangka pengembangan profesional menjadi syarat utama pengembangan pendidikan karakter yang utuh. Memiliki kemampuan dasar berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan, kompeten dalam bidang yang digeluti merupakan dasar bagi keberhasilan hidup di dalam masyarakat. Melalui kompetensinya ini seorang individu mampu mengubah dunia.
8. Demokratis
Masyarakat global hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Ada kebutuhan untuk saling membutuhkan, bahu membahu satu sama lain. Masyarakat tidak dapat hidup secara tertutup sebab keterhubungan satu sama lain itu merupakan kondisi faktual manusia. Karena itu, setiap individu mesti belajar bagaimana hidup bersama, mengatur tatanan kehidupan secara bersama, sehingga inspirasi dan aspirasi individu dapat tercapai. Demokrasi mengandaikan bahwa individu memiliki otonomi dalam kebersamaan untuk mengatur kehidupannya sehingga individu dapat bertumbuh sehat dalam kebersamaan. Demokrasi termasuk di dalamnya pengembangan dan penumbuhan semangat kebangsaan.
9. Menghargai perbedaan
Perbedaan adalah kodrat manusia. Menghargai perbedaan merupakan sikap fundamental yang mesti ditumbuhkan dalam diri individu. Terlebih dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, menghargai perbedaan mesti ditumbuhkan dalam diri tiap individu, karena negara kita ini berdiri karena para pendiri bangsa ini menghargai perbedaan, dan dalam perbedaan itu mereka ingin mempersatukan kekuatan dan tenaga dalam membangun bangsa.
10. Tanggung jawab
Tanggungjawab merupakan unsur penting bagi pengembangan pendidikan karakter karena terkait dengan ekspresi kebebasan manusia terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Tanggung jawab ini memiliki tiga dimensi, yaitu tanggungjawab kepada (relasi antara individu dengan orang lain), tanggungjawab bagi (hubungan individu dengan dirinya sendiri), serta tanggungjawab terhadap (hubungan individu terkait dengan tugas dan tanggungjawabnya di dalam masyarakat).
11. Keadilan
Bersikap adil, serta mau memperjuangkan keadilan adalah sikap dasar pribadi yang memiliki karakter. Keadilan penting untuk diperjuangkan karena manusia memiliki kecenderungan untuk antisosial. Untuk itulah diperlukan komitmen bersama agar masing-masing individu dihargai. Dalam konteks hidup bersama, keadilan menjadi jiwa bagi sebuah tatanan masyarakat yang sehat, manusiawi dan bermartabat. Tanpa keadilan, banyak hak-hak orang lain dilanggar.
12. Integritas moral
Integritas moral merupakan sasaran utama pembentukan individu dalam pendidikan karakter. Integritas moral inilah yang menjadikan masing-masing individu dalam masyarakat yang plural mampu bekerjasama memperjuangkan dan merealisasikan apa yang baik, yang luhur, adil dan bermartabat bagi manusia, apapun perbedaan keyakinan yang mereka miliki. Integritas moral memberikan penghargaan utama terhadap kehidupan, harkat dan martabat manusia sebagai mahluk ciptaan yang bernilai dan berharga apapun keadaan dan kondisinya. Kehadiran individu yang memiliki integritas moral menjadi dasar bagi konstruksi sebuah tatanan masyarakat beradab. Integritas moral muncul jika individu mampu mengambil keputusan melalui proses pertimbangan rasional yang benar, dan melaksanakannya dalam tindakan secara bijak, sesuai dengan konteks ruang dan waktu tertentu. Integritas moral termasuk di dalamnya kemampuan individu untuk membuat kebijakan praktis yang bermakna bagi hidupnya sendiri dan orang lain.